Aku mulai terbiasa merasa kosong di tengah keramaian.
Dikelilingi banyak orang, tapi tidak ada satu pun yang benar-benar tahu apa yang sedang aku rasakan.
Aku tertawa di waktu yang seharusnya tertawa, bicara di waktu yang seharusnya bicara,
tapi hatiku seperti tertinggal jauh di tempat yang tidak bisa dijangkau siapa pun.
Aku sering memikirkan hal-hal yang tidak pernah sempat aku ucapkan.
Tentang rasa yang kupendam terlalu lama, tentang kata maaf yang tidak pernah datang,
tentang perpisahan yang bahkan tidak diberi penjelasan.
Semua itu menumpuk di kepala, membuatku lelah tanpa tahu harus mengeluh ke siapa.
Yang paling menyakitkan adalah saat aku sadar,
aku selalu ada untuk orang lain, tapi tidak pernah ada yang benar-benar ada untukku.
Aku mendengarkan cerita mereka, menenangkan mereka, menguatkan mereka,
tapi saat giliranku terluka, aku justru harus menguatkan diriku sendiri.
Dan pada akhirnya aku mengerti,
aku bukan tidak pantas dicintai…
aku hanya sering salah memberikan hatiku
pada orang yang tidak tahu cara menjaganya.